Thursday, April 5, 2012

The Best Action Movie in Decades!

Akhirnya! Dengan rencana menonton yang sangat mendadak, gue berhasil menyaksikan film yang emang udah gue tunggu dari awal tahun ini. Ya! The Raid! Film ini berhasil membuat gue kembali ingin menonton film Indonesia langsung di bioskop tanpa harus menunggunya tayang di televisi. Seperti yang kita ketahui bersama, film Indonesia yang baru rilis di layar lebar akan sangat cepat muncul di layar kaca pertelevisian Indonesia dibandingkan dengan film-film Hollywood terbaru. Hal ini yang menjadi alasan kenapa gue ga terlalu sering pergi ke bioskop untuk menyaksikan film Indonesia.

The Raid: Redemption, merupakan judul untuk film ini yang dirilis di Amerika Utara
The Raid

Kenapa gue pengen banget nonton film yang satu ini? Alasannya bisa dilihat dari prestasi yang dihasilkan film ini di beberapa festival film tingkat dunia. Setelah pertama kali diputar di Toronto International Film Festival 2011 sebagai film pembuka untuk kategori Midnight Madness, film ini diputar pada beberapa festival film internasional berikutnya, seperti Festival Film Internasional Dublin Jameson (Irlandia), Festival Film Glasgow (Skotlandia), Festival Film Sundance (Utah, AS), South by Southwest Film (SXSW, di Austin, Texas, AS), dan Festival Film Busan (Korea Selatan). Semua ini menjadikan The Raid sebagai film komersial produksi Indonesia pertama yang paling berhasil di tingkat dunia.

Bagaimana gue bisa tahu keberadaan film ini? Semua berawal dari tweet seorang teman yang ingin menyaksikannya di Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-6, sayangnya ia batal pergi kesana dikarenakan masalah waktu. Rasa penasaran membimbing gue untuk mendatangi mbah Google dan mulai melakukan beberapa pencarian tentang The Raid. Gue mulai nonton trailer-nya, mencari tahu siapa saja cast-nya, hingga akhirnya berujung kepada sebuah tanggal rilis film ini di Indonesia, 23 Maret 2012. Dikarenakan banyaknya aktivitas yang gue lakukan, gue baru bisa nonton di tanggal 4 April 2012.




Sekilas sinopsis The Raid oleh www.merantaufilms.com:

"Deep in the heart of Jakarta's slums lies an impenetrable safe house fo the world's most dangerous killers and gangsters. Until now, the rundown apartment block has been considered untouchable to even the bravest police. Cloaked under the cover of pre-dawn darkness and silence, an elite SWAT team is tasked with raiding the safe house in order to take down the notorious drug lord that runs it. But when a chance encouter with a spotter blows their cover and news of their assault reaches the drug lord, the building's lights are cut and all the exits blocked. Stranded on the 6th floor with no way out, the unit must fight their way through the city's worst to survive their mission. Director Gareth Evans (Merantau) and rising material arts star Iko Uwais reunite in this adrenaline-fueled action film."

CAST:



Iko Uwais:

Setelah berperan sebagai Yuda di film pertamanya yang juga disutradarai oleh Gareth Evans, Merantau, pria yang bernama asli Uwais Qorny ini kembali bermain di film kedua karya Gareth Evans. Gareth bertemu dengan Iko saat dirinya masih membuat film dokumenter tentang pencak silat sekitar tahun 2007. Waktu itu, Iko masih bekerja sebagai supir di sebuah perusahaan telekomunikasi. Gareth memintanya keluar dari pekerjaannya dan mengontrak Iko untuk berperan di film-filmnya dalam jangka waktu 5 tahun  ke depan.


Di film ini, Iko berperan sebagai Rama, seorang anggota SWAT yang harus melaksanakan tugasnya saat sang istri sedang mengandung anak pertamanya dan tokoh utama dalam film ini. Ini adalah tugas pertamanya sebagai anggota SWAT. Tidak disangka, ia bertemu dengan sang kakak, Andi (Donny Alamsyah), di misinya ini setelah 6 tahun mereka kehilangan kontak. Sang kakak telah menjadi tangan kanan bos besar gembong narkoba di apartemen tersebut.


Tidak seperti film Merantau yang hanya menonjolkan teknik pencak silat, di sini Iko memadukan banyak gerakan dari aliran bela diri yang lain. Iko yang sering dikira sebagai orang Padang asli karena perannya di film Merantau ini juga menjadi koreografer untuk gerakan-gerakan super keren di film ini. Maklum, Iko sendiri aslinya adalah seorang atlet pencak silat dan pernah menjadi Juara III di Kejuaraan Daerah Antar Perguruan DKI Jakarta tahun 2003. Jika kalian para wanita terpikat dengan Iko Uwais, ingatlah bahwa hatinya sementara ini masih dimiliki oleh Jane Shalimar.



Ray Sahetapy:

Pasti sudah banyak yang mengenal aktor senior di dunia perfilman Indonesia ini. Ia telah bermain film sejak tahun 80-an. Sejak remaja, ia memang bercita-cita ingin menjadi seorang aktor. Itu sebabnya mengapa ia melanjutkan pendidikan hingga ke Institut Kesenian Jakarta pada tahun 1977. Ternyata ia satu angkatan dengan Didi Petet dan Deddy Mizwar disana. Saat perfilman Indonesia memasuki masa-masa suram di tahun 90-an, Ray beralih ke dunia teater dan mendirikan sebuah sanggar teater.


Di film The Raid, Ray berperan sebagai Tama, seorang bos besar bandar narkoba kejam yang belum pernah berhasil disentuh oleh pihak berwajib, penguasa gedung apartemen yang berisi pabrik narkoba dan pemeran antagonis utama. Polisi yang gampang disuap membuat ia belum pernah tertangkap. Penyerbuan rahasia tim SWAT menjadi kacau saat seorang anak kecil penghuni apartemennya melaporkannya. Tama langsung memerintahkan seluruh anak buah beserta penghuni apartemen untuk menyerang tim SWAT. Ray memerankannya dengan sangat baik, karakter Tama yang keji terlihat sangat hidup.


Yayan Ruhian:

Yayan berperan sebagai Mad Dog, tangan kanan dan juga tukang pukul Tama. Sebelum bermain di film The Raid ini, Yayan sudah terlebih dahulu terlibat di proyek film Gareth Evans sebelum film ini, Merantau, sebagai Eric. Sama seperti Iko, Yayan juga menjadi fight choreographer di film ini. Peran antagonis Mad Dog muncul di bagian-bagian penting dan menimbulkan ketegangan bagi para penonton seperti saat berduel dengan Sersan Jaka (Joe Taslim) serta ketika bertarung dengan Rama (Iko Uwais) dan Andi (Donny Alamsyah).


Yayan sendiri aslinya adalah seorang guru bela diri di Perguruan Silat Tenaga Dalam Indonesia. Yayan mengandalkan keindahan gerak tubuhnya dalam melakukan teknik bela diri untuk lebih memunculkan dirinya di film ini ketimbang fisiknya yang jika dibandingkan dengan pemain lain seperti Iko, Joe, dan Donny akan jauh berbeda. Banyak orang juga menyamakan penampilan fisik Yayan dengan seorang paranormal yang juga seorang artis, Ki Joko Bodo.


Menurut IMDb: "Yayan Ruhian, who played the Mad Dog character, had once trained Pencak Silat for Pasukan Pengamanan Presiden (the Indonesian Presidential Security Forces- equivalent to US Secret Service) in 1989 and for the Indonesian Military Police Corps in the early 1990s."



Donny Alamsyah:

Sama seperti Iko dan Yayan, sebelumnya Donny juga bermain di film Merantau sebagai Yayan. Kali ini Donny berperan sebagai Andi, tangan kanan Tama dan otak dari bisnis narkoba Tama. Dua orang inilah yang sangat ditakutkan oleh Letnan Wahyu (Pierre Gruno) akan merusak rencana tim SWAT dalam penyerbuan ini. Andi adalah kakak kandung dari Rama yang sudah lama tidak bertemu. Andi terlihat menyembunyikan perasaan kagetnya saat melihat wajah adiknya di CCTV milik apartemen mereka agar sang bos besar tidak mengetahui hal tesebut.


Donny Alamsyah sudah terlebih dahulu dikenal melalui banyak film seperti Gie, 9 Naga, Fiksi, Merah Putih, Darah Garuda, Hati Merdeka, dan Negeri 5 Menara. Sejak kecil, Donny sudah menaruh minat pada dunia bela diri karena ayahnya adalah seorang pengajar Silat Crimande (salah satu aliran Pencak Silat). Selain pernah belajar Silat, Donny juga pernah belajar Karate, Muay Thai, dan Tinju. Wajahnya yang tampan dan jago bela diri tentu saja membuat kaum hawa kepincut. Tapi untuk sekedar informasi, Donny sudah berusia 33 tahun dan sudah memiliki seorang istri.




Joe Taslim:


Pria yang jika dilihat secara sekilas mirip dengan Daniel Mananta ini berperan sebagai Sersan Jaka, pemimpin operasi penyerbuan ini. Sayangnya, Sersan Jaka tidak tahu kalau ia ditipu oleh Letnan Wahyu (Pierre Gruno) karena misi ini sebenarnya tidak diketahui oleh siapa-siapa di pihak kepolisian dan penyerbuan ini semata-mata untuk menaikkan citra dan jabatan Letnan Wahyu jika tugas ini berhasil. Alhasil, saat mereka semua terpojok dan kekurangan personil yang telah kehilangan nyawa, mereka tidak dapat meminta bantuan siapapun yang berada di luar apartemen. Peran Joe harus berakhir di film ini setelah ia berhadapan melawan Mad Dog dalam pertarungan satu lawan satu menggunakan tangan kosong.

Wajah oriental yang cukup keren dan menjual ditambah fakta bahwa ia adalah peraih medali perak cabang olahraga Judo di SEA Games 2007 dan medali emas di PON 2008 berhasil membuat para wanita (termasuk teman-teman saya) terkesan dan klepek-klepek. Sebelum bermain di The Raid, Joe pernah bermain di film Karma dan Rasa. Di film Rasa, ia juga bermain bersama Ray Sahetapy. Film Dead Mine yang merupakan film feature produksi HBO Asia pertama yang ia perankan juga bakal rilis tahun ini.

Pierre Gruno:

Pierre Gruno berperan sebagai seorang Letnan Wahyu, seorang senior di kepolisian yang memerintahkan untuk melakukan penyerbuan ini. Dialah sumber masalah dalam film ini. Penyerbuan yang dilakukannya tanpa perintah resmi dari pihak kepolisian. Tujuan penyerbuan ini hanya untuk nama besarnya sendiri. 

Pierre Gruno adalah seorang perawagawan, bintang film, dan bintang sinetron. Karirnya di dunia modelling dimulai sejak tahun 1971, sebelumnya ia sempat bermain film padahal statusnya masih seorang pelajar SMA. Dikarenakan alasan waktu, ia lebih memilih meneruskan karirnya di dunia catwalk. Setelah berumur 45 tahun dan sadar kalau ia mulai sepanggung dengan murid-muridnya di bidang modelling, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti.


TRAILER:




SCENE:






















PENDAPAT:

Film ini adalah salah satu film action terkeren yang pernah gue tonton dan hanya dengan budget $1.100.000, jumlah budget yang tidak terlalu banyak untuk film seperti ini. Penuh dengan darah, sadis, brutal dan kejam. Koreografi adegan bertarung sangatlah keren, membuat saya berhasil merasa sedikit meringis kesakitan melihat adegan-adegannya. Terutama di adegan saat Bowo (Tegar Satrya) tertembak di bagian perut dan telinga. Saat tertembak di bagian telinga, sound yang muncul adalah suara berdengung seperti orang yang tidak bisa mendengar apa-apa, sangat real. Juga saat adegan leher Mad Dog (Yayan Ruhian) dirobek dengan batang pecahan lampu neon. Saya masih menunggu kapan sutradara yang asli orang Indonesia bisa bikin film action yang jauh lebih keren dari ini. 

Namun, jika anda berharap jalan cerita yang keren dari film ini, anda tidak bisa berharap banyak. Film ini lebih menunjukkan ke segi action dibandingkan dengan kedalaman cerita. Terutama dialog. Dialog terasa kaku dan lebih mirip bahasa Inggris yang dialihbahasakan menggunakan Google Translate. Mungkin karena Gareth Evans bukanlah orang Indonesia. Dialog yang kaku sedikit tertolong dengan akting aktor senior, Ray Sahetapy, yang sangat keren, dan juga dengan sedikit twist di bagian akhir film yang benar-benar tidak saya duga endingnya bakal begitu. Gue tetap bangga dengan film ini karena mampu memperkenalkan Indonesia lebih jauh lagi.

Kalau anda bukan pencinta film action, atau memang tidak pernah suka film action, mungkin anda akan berkata seperti teman saya yang seorang perempuan. "Ini nggak abis-abis berantemnya, gue aja capek nontonnya." Begitu kata Febby Amelia Trisakti, seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. 

Gue beri nilai 8/10 untuk film ini

Oh, iya, gue juga menemukan ini:

1 comment:

  1. Benar-benar pencapaian yang luar biasa dari karya perfilman Indonesia.
    Yups, sisi action lebih ditonjolkan disini daripada ceritanya, namun itulah "the most powerful weapon" untuk menggaet banyak penonton.
    Mungkin beberapa penonton pada awalnya menganggap remeh dengan film karya Indonesia, namun tentu saja tidak dapat dipandang sebelah mata :)

    Keep the good work for Indonesian movies :)

    ReplyDelete