Sunday, April 22, 2012

TEDxBandung: Better Women, Better World

Pintu masuk
TEDxBandung kembali mengadakan event ala TED pada hari Minggu (22/4). Event kali ini berbentuk mini event, yang biasanya disebut “Ngariung”, yang sedikit berbeda dari biasanya. TEDxBandung membuat event bertemakan TEDxWomen yang terinspirasi dari organizer TED di luar Indonesia serta dalam rangka merayakan Hari Kartini di tanggal 21 April dengan tema “Better Women, Better World”.

Sesuai dengan temanya, pembicara untuk TEDxBandung kali ini adalah wanita dan juga orang-orang yang sangat peduli dengan kehidupan wanita. Satu niatan kami bahwa kami mau mengangkat tema 'Tiga Generasi' atau semacam life cycle. Dimana terwakili oleh tiga speakers kami dalam masa anak-anak, masa muda dan masa dewasa”, ujar Fanni Yudharisman, Project Officer acara ini. “Tujuannya agar perempuan 'local heroes' di Bandung dapat berbagi pengalaman dan ideas-nya dengan perempuan-perempuan kreatif di kota Bandung”, tambah Fanni.



Theoresia Rumthe
Acara yang diadakan di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) ini dimulai pada pukul 14.00 WIB, diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan diikuti oleh seluruh hadirin yang dipimpin oleh sang MC. Seluruh acara yang diselenggarakan di GIM memang harus dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. “GIM dipilih karena ia adalah public space yang dapat dipakai secara free dan tempat yang memiliki fasilitas lengkap di Bandung sudah cukup sulit untuk dicari”, kata Fanni. Special performance oleh Theoresia Rumthe dengan pembacaan narasi sajak berjudul “Hati-Hati” menjadi agenda selanjutnya acara yang telah direncanakan dari dua bulan sebelumnya ini.


Medina Savira
Speaker pertama yang naik panggung adalah Medina Savira, seorang penulis cilik berusia 13 tahun yang telah menerbitkan tujuh buah buku. Jumlah buku yang diterbitkan akan bertambah menjadi sembilan di tahun ini. Salah satu buku karyanya juga telah dijadikan serial FTV. Medina Savira, yang akrab dipanggil Dina, berbicara tentang bidang yang paling dikuasainya yaitu menulis. "Banyaknya penulis cilik di Indonesia membuktikan bahwa banyak potensi bagi anak-anak di dunia jurnalistik," ujar Dina yang tergabung dalam Komunitas Penulis Cilik Indonesia. Selain itu, Dina juga berbagi tips-tips cara menulis ala dirinya. “Jika sedang mengalami writer's block, jangan memaksakan diri untuk menulis. Tinggalkan dulu."


Ardhana Riswarie


Speaker kedua yang tampil adalah Ardhana Riswarie dan Tanti Sofyan dari Open Your (Heart) Studios (OY(H)S).  OY(H)S adalah sebuah studio seni yang memfokuskan diri kepada anak-anak terlantar dan yang hidup di bawah garis kemiskinan. "Sebagian anak di Indonesia berada di golongan menengah ke bawah. Merekalah yang akan mengusung negara ini kelak," ucap Tanti. Namun perhatian terhadap pendidikan anak-anak ini sangatlah tidak memadai. Tanti juga memberikan pesan kepada para calon ayah dan ibu di akhir pembicaraanya, “By educating your own child, you have already took a part in saving the world.”


Krisna Adiarini
Speaker ketiga adalah Krisna Adiarini, CEO dari Galenia Mom and Child Center. Ibu muda yang biasa dipanggil Nana ini mengangkat tema tentang "Kekuatan Dunia Terletak Pada Seorang Wanita".  Salah satu topik yang dibicarakan dalam temanya adalah tentang proses melahirkan Gentle Birth. Nana juga mengingatkan bahwa wanita bisa memilih proses melahirkan yang ia inginkan. "Jangan perlakukan seorang ibu yang hamil sebagai orang yang sakit dan jangan anggap seorang bayi di dalam kandungan sebuah barang. Dia sudah hidup," pesan Nana kepada seluruh attendees yang hadir.

Eko Hendrawan
Speaker keempat sekaligus yang terakhir adalah Eko Hendrawan, seorang atlit beladiri yang mendirikan komunitas beladiri praktis khusus perempuan, Women Self-Defense Kushinryu (WSDK) pada tahun 2007. WSDK didirikan dengan tujuan agar wanita menyadari kemampuannya sebagai makhluk yang kuat dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Banyaknya kejahatan terhadap wanita akhir-akhir ini serta masih maraknya kasus KDRT menjadi bahasan satu-satunya speaker pria di acara ini.






Eko juga sangat menghormati dan mengagumi wanita, “Kalau suami sakit, pasti sering mengeluh kepada istrinya. Kalau istri sakit, ia bisa mengobati dirinya sendiri.” Menurut Eko, konsep pertahanan diri yang bisa digunakan oleh perempuan adalah 3P. Prediksi, Preventif, dan Proteksi. Eko beserta tim juga melakukan demo langsung women self-defense di atas panggung.


Acara yang berlangsung selama dua jam lebih ini dianggap berhasil dalam pandangan sang Project Officer. “Semua susunan acara berjalan lancar, speaker dan audience menikmati acara, semua mendapatkan pengalaman yang berkesan dan menambah nilai diri, termasuk bagi organizer dan volunteer. Saya dan team dapat bekerja sama dengan baik dan menghasilkan event yang hampir tanpa cela, maka saya menganggap TEDxWomen ini sukses.”




Fanni juga berpesan untuk para wanita muda agar mengembangkan diri dengan cara kenali mengenali dirinya. “Setiap wanita muda memiliki potensi dalam dirinya. Temukan dan optimalkan. Cari lingkungan yang dapat mendukung kegiatan kita dan jangan takut bermimpi!

No comments:

Post a Comment