Friday, November 16, 2012

Buat Apa Penulis Cilik Bayar Pajak Kalau Dikorupsi?

Medina Savira
(Foto oleh: Rizky Nawan Putra Lubis)

Perumpamaankecil-kecil cabe rawit” sepertinya sangat tepat untuk menggambarkan perempuan kelahiran Bandung, 17 Juni 1998 ini. Usia siswi kelas 9 RSBI SMP Negeri 5 Bandung ini  memang baru menginjak angka 14 tahun. Namun, novel-novel bertemakan anak-anak yang ia tulis sudah berjumlah delapan buku. Semuanya terbit dalam rentang waktu dua tahun, 2010-2012.

Penulis yang juga hobi membaca buku dan mendengarkan musik ini pertama kali saya ketahui ketika menghadiri acara “TEDxBandung: Better Woman, Better World” di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, pada Minggu, 24 April 2012. Acara itu diadakan dalam rangka memperingati Hari Kartini pada tanggal 21 April. Saat itu, ia menjadi salah satu pembicara yang memberikan materi tentang pengalamannya sebagai penulis cilik.

Perjanjian kami untuk wawancara diawali dengan mengirimkan surat elektronik ke akun e-mail nya yang saya dapatkan dari acara TEDxBandung. Saat itu, di akhir gilirannya sebagai pembicara, ia mencantumkan alamat e-mail-nya di slide presentasi miliknya. Setelah itu, saya meminta kontak BlackBerry Messenger-nya untuk mempermudah komunikasi dan mengatur janji.

Ia sempat menawarkan untuk melakukan wawancara saat libur panjang dua minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 15 November 2012. Namun, karena saya belum menyusun  pertanyaan sama sekali, saya meminta agar janji untuk bertemu digeser menjadi tanggal 24 November 2012. Kami berjanji untuk bertemu di Metro Indah Mall, Bandung, sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu ia baru saja selesai menjalani bimbingan belajar untuk persiapannya menghadapi Ujian Nasional yang semakin dekat.

Datang dengan didampingi kedua orang tuanya, Erwin Lienanda dan Ati Hatijah, wawancara yang berlangsung sekitar 15 menit itu diiringi suara hujan yang hari itu sedang senang menjatuhkan dirinya ke kota Bandung.

“Bagaimana perasaan Anda ketika nama Anda masuk sebagai nominasi Tokoh Muda dalam Berita di Anugerah Seputar Indonesia 2012?”

Waktu itu aku dapat e-mail dari pihak RCTI. Katanya aku menjadi nominasi dan diundang ke acara  pada acaranya di Jakarta. Awalnya aku nggak percaya, soalnya aku nggak punya koneksi di RCTI. Setelah tanya ke ayah, katanya ini memang benar dari sana. Aku nggak berharap dapat penghargaan itu, soalnya saingannya juga berat. Kayak kak Kevin Aprilio dan kak Rio Dewanto. Jadi nominasi aja aku udah senang.

“Bagaimana awalnya Anda mengenal dunia tulis-menulis?”

Waktu kelas 5 SD, aku diajak ke pelatihan jurnalistik sama guruku. Terus ketemu sama kak Sri Izzati. Nah, kak Sri Izzati itu penulis KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) yang sudah senior. Terus dari sana diajarkan untuk menulis. Dina dari situ juga mulai baca serial KKPK. Setelah itu Dina mulai menulis cerpen (cerita pendek). Setelah satu bulan, cerpennya dikirimkan ke penerbit Mizan. Alhamdulillah, direspon.

“Apa motivasi Anda untuk menulis?”

Dari menulis kita bisa menyalurkan aspirasi dan menunjukkan kalau kita (anak-anak) itu sebenarnya bisa. Bukan cuma orang dewasa aja yang bisa menulis, anak-anak juga bisa. Jadi aku ingin menunjukkan kalau anak-anak Indonesia itu punya bakat dalam bidang jurnalistik.

“Bagaimana tanggapan keluarga Anda setelah mengetahui Anda ingin menjadi penulis?”

Alhamdulillah sih orang tua nge-support banget. Kalau ada acara keluarga, keluarga besar pasti nanya, “Dina bukunya udah berapa sekarang?” Terus dimotivasi untuk tetap menulis. Seneng sih, jadi memang didukung banget oleh pihak keluarga.

“Apa tujuan Anda menulis novel anak-anak?”

Soalnya umur aku juga masih 14 tahun sekarang. Aku sesuaikan aja sama usiaku. Jadi, aku bisa menulis apa yang aku rasakan. Jadi, anak-anak yang baca juga mengerti. “Oh iya, ini dunia aku,” begitu.

“Sampai kapan Anda mau menulis dengan tema anak-anak?”

Sebenarnya sih lebih senang menulis dengan tema anak-anak. Mungkin karena sekarang sudah 14 tahun, sudah mulai masuk usia remaja, anak-anaknya agak dikurangi. Sekarang lebih ke remaja.

“Bagaimana pandangan Anda mengenai jumlah novel karya anak-anak di Indonesia?”

Sebenarnya aku sudah senang banget banyak novel karya anak-anak di Indonesia. Dari anak untuk anak juga. Tapi sayang banyak editor yang kadang nggak selektif memilihnya. Jadi, ada beberapa novel yang mirip. Ya, wajarlah, namanya juga anak-anak. Pasti cara menulisnya masih suka mengikuti idolanya.

“Apakah Anda ingin terus menjadi penulis?”

Pengen banget. Jadi penulis itu kan nggak harus profesi utama. Jadi aku bisa ngejalanin profesi lain. Misalnya kerja di mana gitu. Tapi aku masih bisa tetap menulis.

“Jadi, profesi penulis hanya sebagai kerja sampingan saja, begitu?”

Iya.

“Kalau sudah dewasa, mau menulis tentang apa lagi?”

Mungkin kalau sudah dewasa, lebih ke sosial kali ya? Soalnya, senang aja memperhatikan tentang keadaan sosial dan lingkungan sekitar. Kayak lingkungan hijau. Soalnya di tahun 2011, Dina udah pernah ikut TUNZA International Children & Youth Conference On The Environment. Nah, dari situ juga Dina terinspirasi, kenapa nggak bikin buku tentang lingkungan? Itu kan banyak manfaatnya. Menulis sambil berbagi tentang bagaimana menjaga lingkungan yang baik. Mungkin karena sekarang masih kecil, masih 14 tahun, belum banyak sih yang Dina ketahui. Jadi mungkin kalau udah dewasa, makin banyak pengalamannya, pengen-nya menulis tentang lingkungan.

“Apa saja suka dan duka menjadi seorang penulis?”

Sukanya sih karena bisa bikin bangga orang tua. Bisa bikin bangga sekolah. Apalagi bisa bikin bangga diri sendiri. Terus menambah pengalaman. Soalnya dari menulis aku suka ikut acara seperti konferensi penulis, meet and greet. Menambah teman juga karena banyak yang mau kenalan. Nggak enaknya itu misalkan kalau ada yang minta nomor HP kayak gitu. Kan itu sudah terlalu private, jadi kita batasi lah. Boleh korespondensi, tapi lewat e-mail (surat elektronik) gitu. Nggak sampai ke nomor HP. Karena itu kan ngeganggu. Terus kalau lagi sekolah, kadang ada roadshow. Jadi harus izin. Biasanya kalau terlalu sering (izin), suka ditegur juga sama sekolah karena harus bisa bagi waktu. Apalagi sekarang udah kelas 9 SMP, jadi agak dikurangi.

“Siapa idola Anda dalam dunia tulis-menulis?”

Idola aku J. K. Rowling dan Enid Blyton. Kalau di Indonesia Dewi “Dee” Lestari dan penulis KKPK, kak Sri Izzati.

“Sejauh apa gaya menulis idola memengaruhi gaya menulis Anda?”

Kalau untuk cerita anak-anak, lebih ke Enid Blyton. Enid Blyton itu ceritanya klasik, biasanya tentang asrama putri. Dari situ Dina terinspirasi. Dina lebih senang memerhatikan bagaimana bajunya, bagaimana tokohnya, terus makanannya apa. Hal itu terinspirasi dari Enid Blyton. Kalau J. K. Rowling lebih ke imajinasinya yang benar-benar out of the box. Kalau kak Sri Izzati, lebih ke gaya bahasa. Bahasanya nggak monoton. Kalau Dee gaya bahasanya memang sulit ditebak, tapi benar-benar bisa diserap.

“Dari mana saja datangnya inspirasi untuk menulis?”

Sebenarnya dulu nggak senang menulis. Cuma karena kak Sri Izzati mengajak untuk coba menulis dan lihat buku-buku KKPK yang penulisnya ada yang masih berumur 8 tahun, waktu itu Dina umurnya sudah 10 tahun. Dina berpikir kalau mereka yang di bawah Dina (usianya) aja bisa, kenapa Dina nggak? Gitu.

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menulis sebuah buku?”

Beda-beda sih. Tergantung ide dan cara membagi waktunya juga. Biasanya paling cepat dua minggu. Paling lama sih bisa 2-3 bulan, itu karena nggak setiap hari menulis. Jadi terpotong-potong.

“Kadang-kadang, seseorang yang suka menulis mengalami yang namanya writer’s block, atau macet ide. Bagaimana cara Anda mengatasi hal seperti ini?”

Biasanya aku cari kegiatan lain dulu, aku tinggalkan dulu. Aku nggak mau memaksakan diri untuk menulis kalau udah seperti itu.

“Di buku Anda yang terbaru, Holiday Island, Anda menggunakan nama-nama orang yang dikenal untuk menjadi nama tokoh. Apakah cerita di dalam buku ini terinspirasi dari kisah nyata orang-orang yang namanya dipinjam?”

Kalau yang Holiday Island cuma namanya aja sih yang dari teman-teman dan kakak kelas. Kalau di beberapa buku sebelumnya, ada yang berdasarkan pengalaman teman-teman Dina sama berdasarkan pengalaman pribadi.

“Bagaimana proses kreatif Anda dalam menulis buku Holiday Island ini?

Pertama, mengumpulkan informasi tentang Australia karena latar ceritanya di Australia. Terus lebih ke imajinasi aja. Soalnya dulu karena Dina sering main, senang banget ke Kidzania (tempat bermain di mana anak-anak bisa melakukan pekerjaan orang dewasa). Dari situ Dina berpikir kenapa nggak bikin Kidzania itu dalam bentuk cerita, tapi lebih dikembangkan. Soalnya anak-anak juga senang hal semacam itu. Luculah kalau dibaca sama anak-anak. Apalagi dijadikan tulisan dan ditambah gambar.

Holiday Island ini adalah karya kedelapan Anda. Bagaimana cara Anda bisa terus konsisten menulis seperti sekarang?”

Biasanya kalau melihat penulis lain sudah mengeluarkan buku, terus aku belum mengeluarkan lagi. Aku langsung, “Oh iya, aku harus menulis.” Ya setiap hari minimal satu paragraf. Walaupun cuma satu paragraf, tapi kan tetap bertambah terus. Tapi karena sekarang udah kelas 9, jadi dibatasi. Konsekuensinya cuma bisa menulis di hari Sabtu-Minggu. Soalnya kalau udah kelas 9 kan udah fokus ke UN (Ujian Nasional). Orang tua juga nggak terlalu memaksa untuk terus belajar buat UN. Kalau masih mau menulis, ya tetap boleh.

“Semua buku Anda sejauh ini selalu diterbitkan oleh penerbit Mizan. Penghargaan seperti apa yang pernah diberikan pihak Mizan kepada Anda selaku penulis?”

Kalau dari Mizan sih waktu tahun 2011 dapat penghargaan sebagai Penulis Cilik KKPK Terfavorit 2011. Itu aja.

“Apakah Mizan selalu memberikan keterangan yang jelas tentang berapa banyak buku Anda yang terjual dan keuntungannya?”

Biasanya setiap tiga bulan sekali nanti kita (penulis) dapat surat dari Mizan. Ada surat royalti gitu. Terus sama jumlah total penjualan keseluruhan itu berapa.

“Bagaimana pembagian keuntungan antara Mizan sebagai penerbit dan Anda sebagai penulis?”

Kalau penulis baru, itu dapatnya 6%. Karena Dina sudah lumayan lama di Mizan, jadinya 7% dari harga buku. Entar dikali sama jumlah buku yang terjual.

“Sebenarnya, pemerintah itu punya Rancangan Undang-Undang (RUU) Perbukuan. Salah satu isi RUU Perbukuan ini adalah penulis berhak menerima 15% dari keuntungan penjualan buku…”

Sebenarnya karena aku penulis cilik, jadi aku nggak terlalu mikirin berapa besar royaltinya. Tapi di tahun 2011 kemarin, di Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI) 2011, kami membuat sebuah deklarasi, kebetulan aku menjadi fraksi tentang pemerintah. Kelompok kami menulis kalau kami ingin dibebaskan dari pajak. Anak-anak seumuran kami menulis hanya sebagai sampingan, bukan pekerjaan utama. Kenapa kami dikenakan pajak? Anak-anak yang baru mulai menulis, yang masih berumur 10-11 tahun, waktu tahu kena pajak, mereka bilang, “Kok aku dapatnya segini? Dipotongnya besar?” Mereka belum mengerti tentang pajak. Beda dengan anak SMP yang udah belajar. Waktu itu di KPCI kami pernah bertanya kenapa kami dikenakan pajak kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Mohammad Nuh. Katanya karena memang kalian harus bayar pajak. Tapi, Dina berharap deklarasi yang kemarin cepat disetujui. Menurut Dina, kurang bagus aja kalau anak-anak bayar pajak, tapi ujung-ujungnya uangnya dikorupsi juga sama pemerintah.

“Bagaimana pandangan Anda mengenai budaya tulis-menulis di Indonesia?”

Menurut Dina sih udah bagus. Soalnya udah banyak penulis-penulis cilik, seperti Dina, yang berani untuk menulis dan mengirim ke penerbit-penerbit untuk dijadikan buku.

“Pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah biasanya lebih terfokus pada pengajaran mengenai tata bahasa. Selaku siswa SMP dan juga penulis, bagaimana Anda melihat peran pengajaran Bahasa Indonesia  di sekolah dalam memotivasi anak-anak untuk menulis?”

Kalau di kelas 9 ini, di sekolahku lagi diajarkan tentang menulis gitu. Jadi, biasanya aku dijadiin contoh sama guru aku kalau udah soal tulis-menulis. Tugas-tugas menulis kami itu entar mau dikirim untuk dilombakan, kecuali Dina, karena aku udah jadi penulis. Sebenarnya pengajarannya udah bagus, tapi kadang-kadang anak-anaknya juga malas belajar Bahasa Indonesia. Ada yang bilang buat apa belajar Bahasa Indonesia, kan udah bicara pakai bahasa Indonesia setiap hari. Karena itu kenapa kalau setiap UN nilai Bahasa Indonesia itu salah satu yang paling rendah.

“Bagaimana harapan Anda untuk dunia tulis-menulis di Indonesia?”

Sebenarnya dunia tulis-menulis Indonesia itu udah bagus. Mungkin kalau untuk pihak editor, supaya lebih selektif aja memilih karya anak-anak yang masuk untuk diterbitkan. Yang lebih harus diperhatikan itu dunia membaca. Aku pernah dengar di sebuah seminar, katanya budaya orang Indonesia itu budaya mendengar, bukan budaya membaca. Katanya ini gara-gara waktu kecil dibiasain mendengarkan cerita sebelum tidur, bukannya membaca sebelum tidur. Aku harap kebiasaan baca di Indonesia lebih meningkat lagi.


Ketika proses wawancara berlangsung
(Foto oleh: Erwin Lienanda, ayah Medina Savira)

Medina Savira

Tempat dan Tanggal Lahir:
Bandung, 17 Juni 1998

Kontak:
E-mail  : medinasavira@ymail.com

Buku-buku:

·         Kecil-kecil Punya Karya: Fairy School (DAR! Mizan, 2010)
·         Kecil-kecil Punya Karya: Strawberry Secret (DAR! Mizan, 2010, antologi)
·         Kecil-kecil Punya Karya: Ice Cream for Share (DAR! Mizan, 2010)
·         Kecil-kecil Punya Karya: Rambutanholic (DAR! Mizan, 2011)
·         Kecil-kecil Punya Karya: Sassy dan Surat Misterius (DAR! Mizan, 2011)
·         Pink Berry Club: Rubiks Cube (DAR! Mizan, 2011)
·         My Best Story:Chocolate (DAR! Mizan, 2011, antologi),
·         Pink Berry Club: Holiday Island (DAR! Mizan, 2012)

Prestasi:

·         Juara I Calistung tingkat Kecamatan, Kota Bandung.
·         Juara II Lomba Siswa Berprestasi tingkat Gugus 66 Kota Bandung.
·         Juara III Liga Mini Bridge tingkat Kota Bandung.
·         Juara II Liga Mini Bridge Nasional 2007/2008.
·         Juara II Bertutur Sunda (SD BPI).
·         Juara II Paduan Suara (SD BPI).
·         Juara I Menulis Cerita “Apa Tradisimu?” di www.kidnesia.com
·         Juara II Cipta Cerpen FLS2N tingkat Wilayah Bandung Utara (2011).
·         Penulis Cilik Terfavorit KKPK 2011.
·         Duta Lingkungan tingkat SMP se-kota Bandung.
·         Juara II Cipta Cerpen FLS2N tingkat Kota Bandung (2012).
·         Nominasi “Tokoh Muda dalam Berita” di acara Anugerah Seputar Indonesia 2012, RCTI.

1 comment:

  1. Bagus tulisannya.
    Boleh saya tambahkan?
    Mizan adalah salah satu penerbit yang sampai saat ini tetap konsisten menyediakan wadah buat penulis cilik yang belum dikenal, dan tetap mewadahinya hingga menjadi penulis muda.
    Mengenai royalti relatif bagus, karena persentasenya dihitung berdasarkan harga kotor atau harga nominal buku tersebut, bukan terhadap margin keuntungan.
    Salam buat anak-anak Indonesia.
    Tetap semangat.

    ReplyDelete